Concert Review: THE LIBERTINES - HODGEPODGE SUPERFEST 2018

September 05, 2018

IMAGE SOURCE: instagram.com/giskamatahari

Allianz Ecopark, Sabtu, 1 September 2018. Megahnya rigging stage, gemuruh pengeras suara, dan silau tata lampu besar akhirnya bisa saya rasakan kembali di depan mata. Dua tahun melewatkan banyak konser musisi-musisi idola yang datang ke Indonesiasetelah Morrisey untuk kali terakhir, 2016 silam.

***

Kabar kedatangan kuartet asal Inggris yang tak lagi muda ini sudah berdengung beberapa bulan lalu. Tapi antusiasme saya sempat terhalang rasa inggrang-inggring untuk menyaksikan. Terlebih keraguan akan kekompakan duo Carl Barat dan Pete Doherty tidak seseru dulu lagi (maaf John Hassal dan Gerry Powell, kalian memang lebih baik ada di belakang). Ditambah gimmick wagu promotor yang sempat membuka flash sale tiket seharga tiga bungkus rokok yang di-annouce di Instagram, dan segera ditutup hanya dalam setengah jam. Meh.

Keputusan datang di detik-detik akhir, usai mendapat angin sejuk dari teman yang menggenggam selembar free pass. Juga ketersediaan tiket kereta api ekonomi yang tumben belum ludes secepat biasanya, yaiy. Terima kasih, Rizal Triwidodo dan Zaenal Arifin (perkenalkan, mereka adalah pentolan Nevertoolavish yang super keren).

Ibukota masih tetap kejam bagi siapapun yang hanya bermodal recehan, walau hanya untuk sekadar numpang lewat dan nonton benbenan. Beberapa kali oper tranportasi menuju venue sudah membuat nyali ciut. Walhasil, urusan perut menjadi prioritas kesekian. Saya yang terbiasa mengandalkan kearifan ciu lokal guna memompa tensi kala menikmati gigs level kabupaten, harus gigit jari di tempat, pasrah menebus single shot Jack Daniels plus sekaleng bir hitam dengan selembar merah rupiah. Khusyuk enggak, kepikiran iya.

IMAGE SOURCE: instagram.com/hodgepodgefest

Line-up yang tersedia hari itu bisa dibilang kurang menggigit. Hanya The Trees & The Wild yang memukau dengan kemasan barunya yang lebih eksperimental berkat noise-noise cantik. Eman-eman untuk diletakkan di awal acara, tepat setelah penampilan 70sOC. Selepas break maghrib, Elephant Kind membuka dengan biasa-biasa saja, tidak seseksi yang dikatakan orang-orang. Rekaman mereka memang terdengar wah, ternyata tidak dengan live-nyaat least pada hari itu, dan semoga telinga saya yang salah. Sama halnya dengan Lemaitre dan August Alsina yang berstatus impor, belum dapat menggugah rasa penasaran. Hanya Sundara Karma yang lumayan seru, sepertinya fans mereka di Indonesia cukup banyak hingga mampu menyedot penonton ke bibir panggung.

Sebenarnya masih ada sepasang stage di luar dua panggung utama untuk dikunjungi, yang menampilkan Barefood, GHO$$, Day Wave, Jess Conelly, Vancouver Sleep Clinic, Swim Deep, dll. Tapi tetap saja, pantat saya lebih memilih untuk berlengket-lengket dengan rumput yang menghangat. Berjam-jam saya mati gaya sebelum dua kawan lama, Nindya Iswari dan Ina Britpop, datang menyusul. Reuni mini British Invasion Room (forum pecinta musik britpop di Facebook), deh.

Dan tibalah klimaks yang dinanti-nanti: Carl, John, dan Gerry akhirnya menampakkan diri ke hadapan penonton yang sudah menunggu. Histeria bertambah kala Pete yang tengil menyeruak sambil mengayun-ayunkan payung. Langit Jakarta sempat menyedakkan gerimis, untung saja hanya sebentar. Set pertama dibuka dengan "Delaney", dilanjutkan nomor-nomor di album Anthems for Doomed Youth (2015): "Barbarians", "Fame and Fortune", "Heart of the Matter", dan kembali ke era album debut lewat "Boys in the Band".

"And they all get them out for the boys in the band. They twist and they shout for the boys in the band." Yeah!

IMAGE SOURCE: instagram.com/henricadiatri

Sedikit mengambil nafas sambil berbasa-basi sebelum kembali ngegas, mereka cukup adil membagi antara single-single lawas dan materi termutakhir. Dan mohon pahami dulu esensi The Libertines, jangan harapkan permainan rapi dan output sound tertib. Walapun sama-sama berpostur jangkung, default pembawaan Pete berbeda 180 derajat dari petugas paskibra. Permainan gitar meleset, vokal out of pitch, badan limbung ngalor-ngidul, bukanlah sesuatu yang asing. Dia akan menjanjikan keliaran tak terduga sewaktu-waktu. Teriakan absurd di "Up the Bracket" contohnyasalah satu intro lagu terbaik sepanjang masa.

Itulah kenapa kemarin saya ngebet bergabung dengan front row dan larut ke dalam crowd yang tidak lagi memedulikan sesi ambil gambar via smartphone guna memenuhi kebutuhan feed yang aesthetic. Di sanalah terdapat sudut paling tulus merespon setiap part yang dimainkan dari atas panggung. Sudut berisikan gerakan-gerakan ajaib, semburan keringat, tawa serta sorai-serapah fals. Benar-benar tempat pembuangan akhir yang menyenangkan.

"Na, titip tas ya. Gue mau maju, kayanya enak nih ke depan," ijin saya tanpa menunggu jawaban dari Ina yang sibuk merekam video.

Saya tak harus berkenalan dengan "teman-teman" baru untuk sing along, berangkulan, saling tunjuk, mengangkat tubuh siapapun yang berselancar di antara deru musik, dan bertepuk tangan menyambut nada terakhir setiap lagu. Saya tak perlu merasa berdosa ketika salah melafal baris-baris lirik pada "Death on the Stairs" atau "Gunga Din", sehingga nada yang kami nyanyikan seringkali ikut berbeda pulaentah versi siapa yang benar. Kami juga sama-sama merasakan hangatnya kedalaman "Music When the Lights Go Out" dengan menirukan melodi gitar Carl Barat. Atau seketika berubah manis pada "What Katie Did" dengan menjadi backing vocal massal sepanjang lagu. Shoop shoop de-lang de-lang.

Carl dan Pete adalah wujud nyata romantisme bromance terkeren yang tersisa di dunia—melanjutkan kisah Morrissey & Johnny Marr, Iggy Pop & David Bowie, hingga John Lennon & Paul McCartney. Mungkin hari ini hanya kalah dari Mick Jagger & Keith Richards. Saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri ritual berbagi microphone khas mereka. Sekali lagi maaf John Hassal dan Gerry Powell, perhatian bukan pada kalian, tapi dengan bermain cool menjaga tempo di belakang duo teler itu adalah pilihan paling tepat.

IMAGE SOURCE: instagram.com/andreansyahdrew

Kuartet asal London ini sepertinya harus belajar akting lebih baik, sesi encore yang mereka sembunyikan sudah terbaca jelas. Single andalan seperti "What a Waster" belum juga ditampilkan. Dan tibalah satu yang paling saya nantikan, "Time for Heroes". Bom waktu yang dibawa dari rumah akhirnya menemukan detonatornya ketika intro lagu tersebut dimainkan. Kendali atas tubuh saya entah hilang ke mana. Hanya kata-kata terakhir ini yang terdengar setelah saya menggamit pundak terdekat di kiri dan kanan.

"Siap, naik sini bang gue angkat,"

Detik-detik selanjutnya diisi oleh irisan bola dunia yang berputar lamban, yang mengirimkan langit di sepanjang pandangan mata dan gemuruh di bawah sana. Untuk beberapa saat, badan saya melayang, terombang-ambing dan kemudian terbalik tengkurap. Maka terlihatlah horison dipenuhi komat-kamit dari mulut-mulut setengah terbuka. Kepada mereka, tangan saya terkepal meminta lebih dari sekadar gumaman. Belum sempat permintaan tersebut dikabulkan, badan saya kembali diputarbalikkan dan dihadapkan pada dewa-dewa penyelamat dari ketinggian. Tangan-tangan penopang punggung menghantar tanpa arah. Saya lebih memilih untuk mengepal lebih erat, bertindak sebagai dirigen atas apa yang sedang dikumandangkan.

"Wombles bleed truncheons and shields, you know I cherish you my love. Oh how I cherish you my love!"

Saat tersadar, saya sudah mendarat di depan barikade, tepat sejajar dengan tatapan tak bersahabat khas petugas keamanan. Penuh curiga, dia menghampiri dan mencoba mengusir saya kembali ke barisan. Segera saya tepis lengan berukuran jumbo tersebut, dan perlahan beranjak mundur memanjat pembatas sambil menorehkan senyum kemenangan. Hey, bukankah dia tak tahu apa-apa tentang konsep bersenang-senang, apa haknya berdiri di sana semalaman? Sejatinya apa yang dia jaga? Au ah, bodo amat.

Perjalanan menemukan Nindya dan Ina diiringi pancingan gitar menuju babak akhir pertunjukan. "Don't Look Back into the Sun" disambut dengan tepuk tangan mengikuti ritme, dan semua penonton bersorak gembira. Di antara kedua teman saya, terlihat punggung-punggung berlompatan. Sudut depan tempat semua kegilaan tadi masih terlihat menggeliat dan panas. Sisa-sisa tenaga ini saya habiskan dengan bernyanyi dan menyimpan 15 detik terbaik ke dalam gawai, sebagai oleh-oleh untuk netizen yang budiman.

IMAGE SOURCE: instagram.com/ristynasution

Finally, The Libertines! Salah satu band yang menyelamatkan masa remaja saya, membentuk telinga saya hingga menjadi seperti sekarang ini. Tuntas sudah urusan dengan mereka. Walaupun "What Became of the Likely Lads" tidak dimasukkan ke dalam setlist, walaupun "I Get Along" urung dibawakan, tak mengapa dan sudah termaafkan. Malam yang terlalu sulit untuk digambarkan.

You Might Also Like

0 comments